1

Perjuangan Mencapai Gelar “Ummy”


 

Di sela-sela deadline penelitian, soal UAS, literatur review untuk bahan PhD, persiapan Ramadhan, kembali membuka kisah lama namun belum terabadikan. Semangat menulis kembali terbakar ketika membaca blog rekan lain yang mungkin jauh lebih sibuk, tapi masih meluangkan waktu berbagi hal yang bermanfaat.

Rabu, 17 Februari 2017 Pukul 12.04

Akhirnya gelar “ummy” bisa kuraih dengan kemurahan hati Mu ya Rabb beserta doa-doa terbaik orang-orang yang kusayangi. Syukran anak ummy, hari itu kita berhasil melewatinya.

Al Aqsha lahir

Senin, 15 Februari 2016

Alhamdulillah, abi dedek akhirnya purna sudah menyelesaikan misinya di Padang dan kembali ke Payakumbuh membersamai ummy menunggu kelahiranmu Nak. Deg degan juga ketika melepas abi pergi saat mendekati HPL. Sorenya ummy mengantar abi pergi bekam karena efek uji fisik kemaren selama di Padang. Saat itu ada uni yang menanyakan kandungan ummy, beliau berkisah kalau sebenarnya fitrahnya seorang bayi itu lahir normal. Entah kekuatan dari mana tekad ummy semakin kuat untuk berjuang melahirkanmu dengan normal Nak.

Selasa, 16 Februari 2016

Seperti biasa setiap pagi ummy pergi marathon ditemani abimu. Nenek baru mau berangkat mengajar. Tapi hari itu, entah sakit apa yang belum pernah ummy rasakan sebelumnya berangsur-angsur menambah konsentrasi rasa sakitnya. Belum sampai 200 M dari rumah ummy sudah tidak kuat bertahan. Abi berinisiatif mengajak ummy pulang.

Pukul 12.00

Melihat kondisi ummy yang agak meringis kesakitan, nenek jadinya izin pergi ke sekolah. Tante Anis dan Dang Supiak datang ke rumah, melihat kondisi ummy. Kata mereka tanda-tanda kelahiranmu sudah dekat Nak. Tak sabar ummy ingin berjumpa denganmu, tapi konsekuensi dari perjumpaan itu harus kita lalui terlebih dahulu. Oom Hamdi datang dengan siaga membawa mobil mengantar kita ke RSIA Sukma Bunda, Koto Nan Empat Payakumbuh. Ummy masih ingat nenek memberikan ummy minyak zaitun dan telur untuk diminum.

Pukul 12.20

Pas nyampe di RSIA, Ummy diperiksa dalam oleh bidan. Sebelumnya ummy sudah searching kalau periksa dalam agak sedikit sakit. Jadi ummy sudah siapkan mental. Kata Bidan ummy masih pembukaan 2, jadi masih ada pilihan apakah langsung reservasi atau pulang dulu ke rumah. Nanti kalau sudah sangat sakit baru ke sini lagi. Wah sakit seperti apa yang dimaksudkan bidan tersebut?? apakah sama dengan yang dimaksud Dang Supiak, sakit yang dinanti-nantikan sampai tidak bisa tersenyum lagi.

Pukul 17.00

Akhirnya tanda-tanda kelahiranmu semakin nyata hadirnya. Ada cairan kental berwarna merah keluar dari rahim ummy. Sakitnya semakin kuat. Ummy berjalan di sepanjang rumah sakit ditemani abimu. Ummy berpesan kalau nanti pas melahirkan tolong iringi denagn murattal Al Baqarah. Sekalian ummy bisa murajaah hafalan.

Pukul 21.00

Masih pembukaan 3 kata bidannya. Sakitnya semakin menjadi-jadi. Abi dan nenekmu sudah terlelap. Kasihan mereka kelelahan. Malam itu, ditemani siaran TV Masjidil Haram dan Mesjid Nabawi, mengingatkan kembali kisah ummy pernah berada diantara ribuan orang disana. Rindu ummy ke Baitullah Nak, bersamamu, abi, nenek, oom, kakek dan keluarga kita.

Pukul 04.00

Masya Allah, sakit yang luar biasa ummy rasakan. Ummy kemudian membangunkan abimu. Dan bidan datang memeriksa. Katanya sudah pembukaan 5. Alhamdulillah, ummy tidak kuat lagi berjalan dan akhirnya di bawa dengan kursi roda ke lantai dasar di ruang persalinan.

Pukul 09.00

Lantunan surat Albaqarah khas Al Ghamdi seperti menambah kekuatan ummy. Pembukaannya sudah sempurna, sudah beberapa kali mengejan tapi ummy belum berhasil. Nenekmu mulai gelisah, ummy tahu itu dari mata beliau yang mulai memerah dan ada tetesan bening. Nenekmu keluar dari ruangan persalinan. Beliau membawakan segelas teh untuk ummy supaya ummy kembali bertenaga. Ummy tidak sempat sarapan, sakitnya mengalahkan keinginan makan ummy. Ummy kemudian memeluk abimu erat, ummy berusaha untuk tetap tersenyum. Sakit itu kembali datang, ummy pegang erat bahu abimu. Kata bidan saat sakitnya datang kembali coba mengejan, Ayo.. ayo.. sudah tampak rambutnya kata bidan. Tapi, belum berhasil juga. Ya Rabb.. ummy berdoa semoga perjuangan kita ini berakhir indah Nak. Ummy ingin mendidikmu, ummy ingin mengajarkanmu membaca Alquran.

Pukul 11.30

Ummy mengamati setiap gerak detak jam dinding di ruangan tersebut. Ummy mengumpulkan tenaga. Akhirnya dokternya datang, dengan santai dan senyum beliau menyapa ummy. Ummy coba mengejan kembali, masih belum berhasil. Tapi kata dokternya sudah hampir dekat.

Pukul 12.04

Pada ejanan ke empat ummy mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Dan suara itu memecah kecemasan yang mulai menggelayut di wajah nenekmu. Alhamdulilah engkau telah terlahir ke dunia Nak.. Alhamdulillah ya Rab..

 

 

 

 

 

 

0

Me “refresh” energi hati


indahnya-memaafkan1

Seringkali kita memetik hikmah dari pengalaman yang terjadi pada diri kita sendiri, namun tak jarang kita bisa arif untuk menemukannya dari pengalaman hidup orang lain. Bahkan lebih membekas pada diri kita sendiri.

Itulah yang saya alami melihat pengalaman hidup seseorang beberapa waktu lalu. Begitu cepat Allah merubah kondisinya. Dari yang awalnya berada pada kondisi jumawa sampai pada saat ia benar-benar tersungkur tak sanggup bangkit. Malu dihadapan manusia. Semoga Allah memberinya kekuatan untuk melihat dari cermin yang berbeda, bahwa ada yang lebih indah dari apa yang ia perjuangkan selama ini.

Iya, melihat syurga yang lain.. Apakah salah, ketika kita merajut mimpi, menyempurnakan asa, namun tiba-tiba orang lain yang kita anggap kita lebih baik darinya mendahului kita memasuki syurga yang senantiasa kita dambakan?

Padahal mereka memiliki amalan yang jauh lebih sempurna. Sedangkan kita masih compang camping dalam niat, lusuh dalam amal. Haruskah kita menjadi selalu yang pertama, selalu yang teratas, selalu yang terkenal selalu yang bla.. bla.. bla.. Sehingga salah dalam langkah.

Semoga Allah menyadarkan kita segera, jangan sampai kita mengetahuinya setelah timbangan amal telah berganti pemilik, amalan yang sedikit berpindah pada yang lain..

Sebelumnya saya disadarkan oleh sebuah tulisan ustadz Salim A. Fillah yang berjudul kekasih tersembunyi..

KEKASIH TERSEMBUNYI

@salimafillah

“Allah menyembunyikan kekasihNya di antara manusia”, ujar ‘Umar ibn Al Khaththab, “Sebagaimana Dia menyembunyikan Lailatul Qadr di antara malam-malam bulan Ramadhan.” Semua malam bulan Ramadhan memang istimewa. Tapi yang paling dahsyat adalah hadirnya yang rahasia, yang hanya dikenali dari tanda-tanda yang tak seorangpun mudah memastikannya.

Orang-orang yang menetapi kewajiban kepada Allah dan menjauhi laranganNya sungguh istimewa. Merekalah orang bertaqwa, merekalah kekasihNya. Tapi kekasih Allah pun berderajat-derajat tingkatannya. Dan termasuk tingkatan yang tertinggi di antara mereka, seperti kata Sayyidina ‘Umar, adalah yang tak mudah dikenali oleh mata manusia.

Merekalah Atqiya’ul Akhfiya’, orang-orang yang bertaqwa lagi tersembunyi. Mereka terkenal di langit meski diabaikan di bumi. Mereka dirindukan surga meski dikucilkan dunia.

Inilah catatan penting kita, bahwa orang-orang shalih yang menjadi kekasih Allah sama sekali bukanlah orang yang menonjolkan diri. Mungkin memang ada di antara mereka yang menonjol, tapi bukan sebab keinginan dirinya. Dan sungguh hati mereka juga tak pernah menyukai keterkenalan itu. Allah hanya hendak membebani mereka dengan ujian yang lebih berat berupa kemasyhuran.

Maka Mu’adz ibn Jabal menangisi keterkenalannya, sebab dia disebut oleh Sang Nabi ﷺ sebagai yang paling mengerti halal dan haram dalam agama. Maka Muhammad ibn Sirin berkata, “Andai dosa ada baunya, takkan ada seorangpun di antara kalian yang tahan duduk di sisiku.” Maka Imam An Nawawi tersedu memalingkan diri, ketika digelari sebagai Muhyiddin, sang penghidup agama. Maka Yusuf Al Qaradlawy berkata “Cukup!” dan Muhammad ibn Shalih Al ‘Utsaimin menyuruh pembawa acara diam, ketika menyebut keduanya sebagai “Al ‘Allamah”, yang amat dalam ilmunya.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan sabda Rasulullah ﷺ tentang kekasih Allah yang tersembunyi; yang kedudukannya amat diidamkan para mulia yang di atas kita sebut namanya.

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mencintai hamba-hamba yang diciptakanNya”, begitu kalimat Nabi ﷺ dalam riwayat Muslim, “Yang terpilih, yang suka menyembunyikan ‘amal, yang bajik, yang kusut rambutnya, yang berdebu mukanya, dan yang kelaparan perutnya. Jika mereka meminta izin kepada Amir untuk menghadap, maka mereka tak diizinkan. Jika memberi anjuran, maka kata-kata mereka tak dianggap. Jika melamar, maka mereka tidak dinikahkan. Jika tak hadir, maka mereka tak dicari. Jika muncul, kedatangan mereka tak disambut. Jika sakit, mereka tidak dijenguk. Jika mati, mereka tidak dipersaksikan.”

Betapa Maha Bijaksana, Dzat yang menyatakan kepada kita bahwa makhluq yang paling mulia di antara kita di sisiNya adalah yang paling bertaqwa. Tetapi juga sekaligus mengabarkan melalui RasulNya bahwa ketaqwaan itu ada di dalam dada, tak dapat dilihat oleh mata manusia siapapun dia. Ianya bermakna; teruslah berkhusyu’ memperjuangkan taqwa dalam diri, dan selalulah tawadhu’ kepada sesama hamba.

Sungguh kita tertuntut untuk tak meremehkan seorangpun di antara hamba Allah yang shalih seisi bumi, sebab boleh jadi mereka adalah para kekasihNya yang jauh lebih terkasih dibanding kita.. Maka mari meniti jalan zuhud seperti yang diungkap cirinya oleh Hasan Al Bashri. “Sang zahid adalah”, kata beliau, “Dia yang jika berjumpa orang lain selalu berkata pada dirinya, ‘Beliau lebih utama daripada aku.’”

Dengan meneladani jawaban salam Habibullah ﷺ pada Rabbnya pada saat Mi’raj, kita menyebut orang-orang shalih itu di dalam doa tasyahud shalat kita, agar kita tergabung bersama mereka. “Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin.. Salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang shalih.”

Jadi teringat tulisan saya yang pertama di blog multiply tentang hal yang serupa. Menjadi orang yang tak dikenal di tengah manusia namun sangat dikenal oleh Allah SWT.. #Merindublog dahulu 😢

0

Hikmah megandung si buah hati


Alhmdulillah.. tak terasa kehamilan saya sudah memasuki trimester kedua. Mohon doanya sahabat 😀😀

1. Bulan pertama 19 Juni 2015

Kami sangat bahagia dengan kabar kehadiran si buah hati. Padahal seminggu sebelumnya saya melakukan berbagai aktivitas yang cukup melelahkan, tapi bersyukur dedek masih sehat di dalam rahim saya. Tak sedikit rekan2 kerja yang belum memperoleh momongan sedangkan usia pernikahan sudah hitungan tahun. Harus banyak bersyukur.

2. Bulan kedua & ketiga Juli & Agustus2015

Saya mengalami berbagai perubahan pada fisik dan psikis. Mual, pusing, tidak menyukai berbagai bau. Ya Rabb… bagaimana dengan janin saya nantinya kalau saya sendiri sulit menelan makanan. Padahal saat ini adalah saat yang paling krusial yaitu pembentukan bumbung saraf janin. Setelah saya baca, kandungan hormon HCG (Hormone Chorione Gonadotropic) saya sedang meningkat. Hormon ini yang berfungsi memberi makan pada janin sebelum terbentuknya plasenta. Peningkatan kadar hormon inilah yang membuat kita mual & muntah. Terbayang kan betapa lelahnya setiap kita makan, lalu kita memuntahkannya. Hmmm…

Oo.. syukurlah. Lalu dengan kondisi yang lemah & mual itu saya mengambil hikmah agar tidak beraktivitas seperti biasa. Lebih menjaga  & banyak istirahat. Kalau tidak ada pusing & mual, bisa2 saya masih mengikuti kegiatan ke lapangan.

3. Bulan ke empat Agustus dan Semptember 2015

Hore…  ajaib mual dan muntah saya sudah hilang. Rasanya ajaib sekali.. Saya tidak perlu merepotkan suami lagi untuk membersihkan muntah saya di kamar mandi. Thank honey.. 💝

4 Bulan ke lima Oktober 2015

Saat ini memasuki bulan kelima kehamilan saya. Berangsur2 saya merasakan perubahan pada diri saya. Tara… Alhamdulillah, saya sudah mulai nisa memakan makanan yang berbumbu dan sedikit bercabe. Rasanya ini keajaiban kedua yang saya rasakan. Sepertinya Allah mengembalikan indera pengecap saya. Saya bisa merasakan enaknya makanan. Kalau saya putar kembali memori saya saat trisemester awal kehamilan saya dahulu, rasanya tidak akan mungkin merasakan enaknya suatu makanan. Tapi itulah, cara Allah begitu indah, terasa sekali roda itu berputar. Hmmm… Thank you Allah & My hero, Mr. Rifandi..  ☺

3

Ramadhan Bersemi 1436 H ^_^


Tak ada kata seindah syukur pada Allah pemilik hati hambanya.

Tak ada yang berbeda dengan Ramadhan sebelumnya, kami menjalaninya bertiga.

Ups.. untuk personelnya sudah terjadi perubahan.

Saat ini bukan mama dan Hamdi lagi yang menemaniku,

Tetapi seorang lelaki yang telah berani mengambil resiko membuat ikatan yang kuat dengan waliku, yups dia adalah suamiku tersayang.. Mr. R. ^_^

Kemudian kalau bukan Mama dan Hamdi, siapa lagi satu orang yang lain..

Tara.. dia adalah..

Kasih tau ngak ya..

Hmmm, eh.. ah..

Alhamdulillah memasuki Ramadhan tahun ini kebahagiaan itu terasa sempurna dengan hadirnya amanah Allah di rahimku. Semoga Allah selalu bimbing kita ya nak.. Mmuach..

Dan yang lebih membahagiakan adalah seorang lelaki yang begitu semangat mencari nafkah di siang harinya, dan di sore dan malam harinya ia tetap menjaga istri dan calon anaknya.

We love you Mr. AoM…

Screenshot_2015-07-11-11-21-57      Screenshot_2015-07-11-11-21-46